DAKWAH DI ERA GLOBAL Ikhtiar Membangun Peradaban Islam di Tengah Arus Globalisasi

Diposkan pada 27 Dec 2016 11:17


Tahun 2001 saat gedung kembar WTS dihancurkan oleh kelompok yang diduga teroris menjadi tonggak baru pergesekan budaya barat dengan Islam. Barat yang dipelopori oleh Amerika Serikat menuding Islam sebagai dalam di balik peristiwa tersebut dan kemudian getol memerangi perilaku yang disebutnya sebagai teroris. Pasca peristiwa tersebut sitegang Amerika dengan negara-negara yang identik dengan muslim terus berlanjut. Amerika menyerang Taliban karena dianggap menyembunyikan Osama bin Laden yang dianggap sebagai dalang peledakan WTC menjadi dalih ampuh untuk merayu dunia dan melumpuhkan Taliban. Tuduhan Amerika bahwa Irak memiliki senjada kimia pemusnah massal mampu menjadi alat untuk membungkam dunia dan memuluskan ambisi Amerika untuk meruntuhkan pemerintahan Saddam Husein. Kemelut di negara-negara kawasan Arab akhir-akhir ini seperti Sudan dan Mesir dan berakhir dengan pergantian pucuk pimpinan menjadi ‘tragedi’ di negara-negara yang identik dengan Islam. Terakhir, perkembangan baru dalam drama politik internasional adalah sikap ‘bersahabat’ presiden baru Iran, Hassan Rawhani, terhadap Amerika mengundang perhatian dunia, lantaran Iran selama ini merupakan satu-satunya negara Islam yang lantang menentang politik luar negeri pemerintah Paman Sam. Di sisi lain, perkembangan budaya global terus berjalan. Perkembangan teknologi komunikasi membawa relasi budaya dari berbagai negara terus mengalami perkembangan dinamis. Suatu bangsa dalam sebuah negara tidak dapat absen dari pengaruh dan mempengaruhi budaya bangsa lain. Minum Coca Cola misalnya, tidak hanya terjadi di negara-negara barat yang memiliki perusahaan minuman tersebut, tetapi juga terjadi di hamper seluruh negara di dunia ini. Perusahaan soft drink yang telah ‘meraksasa’ menjadi perusahaan multi nasional telah membawa budaya Coca Cola menjadi massif di berbagai belahan dunia. Coca Cola menjadi ‘ikon’ peradaban baru dunia. Sebelumnya model celana jeans sebagai trend fashion Amerika telah berhasil dipopulerka ke berbagai pelosok negara di dunia. Gelombang jeanisasi merambah dunia secara massif. Alhasil, relasi politik, ekonomi, dan budaya telah membentuk jaringan antar negara di dunia tanpa bisa dicegah lagi. Apakah ini disebabkan oleh gerakan ‘Pan Amerikana’ yang dikampanyekan oleh negara adidaya dan disokong oleh ‘dakwah’ Yahudi, Atau memang sebuah kecenderungan logis dari perkembangan teknologi komunikasi? Tentu sulit untuk dijawab secara hitam putih. Yang jelas, politik, ekonomi, serta budaya telah menjadi jarring laba-laba dalam dinamika dunia. Lalu, bagaimanakah langkah dakwah yang harus diambil dalam konteks global? Akankah dakwah dikemas secara vis a vis Islam dan barat, baik secara politis maupun kultural? Ataukah harus dirumsukan konsep dahwah lain? Konsep dakwah seperti apakah yang harus dirumuskan oleh para muballigh musli untuk dapat mendakwahkan Islam secara global, agar agama yang rahmatan lil alamin ini dapat deterima dengan baik oleh masyarakat global? Tulisan ini mencoba untuk menggagas rumusan itu. Agar langkah dakwah di era global tidak terjebak pada politik internasional yang seringkali kurang menguntungkan bagi upaya pencitraan Islam di mata barat. Dakwah Islam Membangun Sebuah Sistem Sosial Dakwah dalam realitas sehari-hari telah dipahami dalam pengertian yang luas. Menurut HMS Nasarudin Latif sebagaimana dikutip oleh Moh. Ali Aziz, dakwah adalah setiap usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan menaati Allah Swt., sesuai dengan garis-garis aqidah dan syari’ah serta akhlak islamiyah. Sejalan dengan pengertian tersebut Sayyid Quthub menyatakan bahwa dakwah adalah usaha orang beriman mewujudkan system (ajaran) Islam dalam realitas kehidupan, baik pada tataran individu, keluarga, masyarakat dan umat. Dalam konteks itu dakwah menurut Sayyid Quthub mencakup 3 (tiga) hal, yakni mewujudkan system Islam, membangun masyarakat Islam, dan membangun pemerintahan Islam. Mengacu pada pengertian dan pemahaman tentang dakwah tersebut, maka dakwah harus dikemas sedemikian rupa dan dirumuskan secara matang untuk mewujudkan masyarakat yang menjalankan nilai-nilai Islam dalam artian luas. Dakwah bukan hanya sekedar menyampaikan seperangkat tata cara beribadah (mahdlah) kepada Tuhan, tetapi dakwah yang mencerahkan sesuai dengan prinsip dasar Islam (tauhid), memberikan motivasi, dan juga membangun system atau struktur sosial yang memungkinkan orang saling mengingatkan dalam kerangka menjalankan nilai-nilai Islam tersebut. Dalam kerangka itu dakwah membutuhkan banyak perangkat ilmu dan pranata social. Semua perangkat tersebut dibutuhkan untuk menentukan langkah dakwah secara komprehensif dan tidak terpecah-pecah. Sehingga dengan demikian dakwah tidak dapat dijalankan secara gradual (sendiri-sendiri) oleh masing-masing kelompok, baik kelompok agama, politik, ekonomi, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Semua kelompok harus menyatukan langkah. Sebagaimana firman Allah Swt., dalam surat Ash-Shaf ayat 4; •          •  “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” Ayat tersebut secara jelas menyatakan bahwa membangun system dalam kerangka dakwah sehingga tercipta tatanan social yang saling berkaitan, saling mendukung, serta saling mengisi menjadi hal yang disukai oleh Allah. Secara logika, membangun system dakwah yang rapi akan mempermudah gerakan dakwah islamiyah dan pada giliran selanjutnya akan memberikan peluang lebih besar bagi tercapainya tujuan dakwah. Ibarat suatu tim sepak bola, jika masing-masing pemain bermain sesuai dengan pos dan perannya maka akan dapat melakukan penyerangan serta pertahanan secara maksimal. Soliditas tim akan memberikan peluang yang besar memperoleh kemenangan. Mewujudkan system yang islami sebagaimana dikemukakan oleh Sayyid Quthub tersebut memerlukan peran masyarakat dan pemerintahan yang islami pula. Ketiga hal tersebut menjadi sarana dakwah yang tidak dapat dipisahkan. System yang islami sulit terwujud jika masyarakatnya tidak islami, demikian juga kedua hal tersebut sulit terwujud manakala pemerintah yang bertugas membangun system juga tidak islami. Pemerintah yang islami sulit diwujudkan jika masyarakatnya tidak islami. Sekali lagi ketiga hal tersebut menjadi unsure yang tidak dapat dipisahkan. Sistem Dakwah Islamiyah Tidak dapat dipungkiri bahwa dakwah islamiyah tidak dapat dilepaskan dari peran da’I selaku subyek dakwah. Da’ilah yang akan menentukan langkah dan gerak dakwah. Apakah dakwah akan dijalankan dengan strategi konfrontatif, akomodatif, tradisional, modern, dan sebagainya. Sebelum lebih jauh membahas bagaimana da’I harus menjalankan fungsinya agar dakwah berjalan dengan baik, tentu harus dirumuskan terlebih dahulu siapa yang disebut dengan da’i. Da’i, sebagaimana diisyaratkan dalam beberapa ayat al-Qur’an adalah seluruh umat Islam. Mengacu pada QS. Ali Imran ayat 104 da’I dapat dipahami sebagian orang saja dari umat Islam yang melakukan amar ma’ruf nahiy munkar. Sementara mengacu pada QS. At-taubah ayat 122 da’i dapat dipahami kelompok orang yang menyebarkan agama, tetapi dengan peran dan tugas yang berbeda. Mengacu pada QS. An-Nahl 125 da’i adalah semua umat Islam, karena khithab ayat tersebut kepada Muhammad Saw, yang berarti berlaku bagi seluruh umat Islam tanpa kecuali. Selanjutnya dalam QS. At-Taubah ayat 71 disebutkan bahwa mukmin dan mukminat adalah mitra dalam amar ma’ruf nahi munkar yang berarti sama-sama menjalankan tugas. Dalam hadis Nabi Saw, ditegaskan lagi; “Barang siapa di antara kamu melihat satu kemungkaran maka hendaklah mencegah dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, jika tidak bisa maka dengan hatinya. Yang demikian itu merupakan iman yang paling lemah.” (HR. Bukhori dan Muslim). Hadis tersebut memberikan pengertian bahwa amar ma’ruf nahi munkar diperintahkan kepada semua orang (muslim) sesuai dengan kemampuannya. Berdasarkan pada dalil-dalil tersebut dapat ditegaskan bahwa semua umat Islam dibebani tanggung jawab untuk berdakwah. Sehingga dengan demikian semua umat Islam adalah da’i. Mengingat bahwa semua umat Islam bertugas sebagai da’i, maka semua umat Islam berkewajiban mengembangkan dan menyebarkan ajaran Islam. Sebagai da’i, maka setiap umat Islam juga berkewajiban membangun barisan dakwah secara rapi agar dakwah islamiyah yang dijalankan dapat tepat sasaran, serta berjalan baik. Rapinya barisan dakwah tidak hanya dibutuhkan agar dakwah dapat dijalankan dengan baik, rapid an efisien, tetapi juga dapat menjadi syi’ar tersendiri. Rapinya barisan daakwah memberikan citra positif umat Islam di haddapan umat lainnya. Dalam kerangka inilah kesadaran umat Islam diperlukan agar tidak terjadi perebutan kekuasaan dan persaingan dakwah secara negative dan justru kontraproduktif. Kesadaran umat Islam tentang pelaksaan peran dakwah sesuai dengan posisi masing-masing dalam kerangka barisan dakwah akan memunculkan citra positif di hadapan muslim itu sendiri maupun non muslim. Mengacu pada pembagian tugas sebagaimana dikemukakan dalam QS at-Taubah 122, serta dalam hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tersebut, maka da’i yang konsentrasi menyampaikan kebenaran perlu mengemas penampilannya sebaik dan sebagus mungkin. Da’i, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, pendidikan, serta di bidang lainnya, dituntut untuk senantiasa meningkatkan perilakunya sesuai dengan nilai dan prinsip ajaran Islam. Sebab, perilaku mereka akan menentukan apakah system Islam, masyarakat Islam, serta pemerintahan Islam dapat terbentuk atau tidak. Pemerintahan yang Islami tidak mungkin terwujud jika da’i di bidang politik dan birokrasi yang berpegang pada nilai dan prinsip Islam. Masyarakat Islami tidak mungkin terbentuk jika pemerintahannya tidak islami. System Islam tidak mungkin berjalan jika masyarakat dan pemerintahnya tidak islami. Sekali lagi, pendek kata, dakwah dapat dilakukan secara sistematis jika umat Islam tidak menjalankan tugas dan tanggungjawab sesuai dengan posisi mereka masing-masing. Kesediaan menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan posisi masing-masing inilah yang akan mendorong kegiatan dakwah berjalan sistematis. Dakwah sebagai upaya membangun masyarakat yang islami yakni menjalankan nilai dan prinsip Islam dalam kerangka mewujudkan kemakmuran umat manusia dan menciptakan rahmat bagi seluruh alam sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-A’raf ayat 96 dan QS. Al-Anbiya’ ayat 7 . Tantangan Global Dakwah Islamiyah Perkembangan global terjadi secara massif. Budaya, ekonomi, politik, pendidikan, berjalan dan berkembang secara berkelindan. Satu persoalan bangsa tidak hanya dipicu oleh satu aspek saja, sehingga penyelesaiannyapun memerlukan pendekatan secara multidisiplin. Kemiskinan misalnya, lebih disebabkan oleh budaya, pendidikan (termasuk di dalamnya pemahaman keagamaan), dan juga politik. Van Bruinessen menggambarkan kehidupan masyarakat (miskin misalnya) dan korelasinya dengan Islam dan negara. Pola kehidupan masyarakat tingkat bawah berkaitan erat dengan konsepsi Islam yang dipahami serta konsep politik. Ketiga entitas tersebut saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Konsep tersebut bersesuaian dengan konsep Sayyid Quthub yang telah diuraikan di sub bab sebelumnya. Dalam konteks global, dakwah islamiyah mau tak mau harus dijalankan dengan membawa konsep kenegaraan. Era negara bangsa saat ini, mau tak mau, mengharuskan dakwah islamiyah dengan mematangkah konsep kenegaraan sebagai sarana pembentukan masyarakat dan system Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bawha dakwah islamiyah dalam konteks internasional dakwah membutuhkan strategi yang bersifat sistemik. Pola kehidupan masyarakat dan system politik yang dijalankan dalam sebuah negara akan menentukan pola dan bahkan kemampuan dakwah umat Islam yang dalam era sekarang ini ‘terkungkung’ dalam system negara bangsa. Ketika pola hidup masyarakat dan system politik yang dijalankan umat Islam dalam sebuah negara tidak berjalan sinergi, maka kemampuan muslim dalam sebuah negara tidak akan terbangun, baik kemampuan dalam bidang ekonomi, pendidikan, budaya, serta kemampuan dalam bidang lainnya. Dengan kata lain, konsepsi masyarakat dan negara akan menentukan suatu negara menjadi kuat atau tidak. Negara yang kuat akan dapat menjadi alat dakwah dalam konteks global. Jika negara yang dibangun umat Islam tidak kuat, maka dakwah dalam konteks globalpun akan sulit dijalankan.