Filosofi Hari Santri

Diposkan pada 23 Oct 2017 01:50


Ropingi el Ishaq Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan oleh Pemeritah sebagai Hari Santri. Tentu, penetapan hari santri ini merupakan hadiah bagi ummat Islam. Karena penetapan hari santri, bagaimanapun, merupakan apresiasi pemerintah atas jerih payah ummat Islam yang telah berjibaku berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Siapakah Santri Itu? Santri dalam paparan Clifford Geertz pada awalnya digunakan untuk para penuntut ilmu agama (Islam). Namun kemudian digunakan untuk menyebut orang yang memegang teguh ajaran Islam, sehingga ‘menolak sinkretisme’ sebagaimana yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Dalam bahasa kelompok ini adalah ‘orang Jawa Arab’ atau bahasa lain yang digunakan oleh Geertz adalah ‘muslim sejati’. Adapun pengertian dari istilah santri itu sendiri beraneka ragam. Ada yang mendefinisikan santri adalah pengikut kyai. Sebagaimana Sun Gho Kong yang mengikuti jejak dan perjalanan Sang Guru. Dalam konteks modern santri diartikan dengan seseorang yang terdaftar sebagai murid pada salah satu pondok pesantren. Kembali saya mengutip pengertiaan yang dirumuskan oleh Clifford Geertz santri adalah orang (Islam) yang menjalankan doktrin Islam (rukun Islam) dengan cara menafsirkan isi doktrin tersebut secara moral dan social. Ritual keagamaan (Islam) adalah salah satu bentuk atau bagian dari penerapan doktrin Islam itu. Apa Tujuan Memperingati Hari Santri? Hari santri ditetapkan dalam kerangka untuk memperingati peran kaum santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam konteks sejarah, santri dianggap memiliki peran besar, baik dalam perjuangan merebut kemerdekaan maupun untuk mempertahankan kemerdekaan. Sejarah lahirnya hari santri dikaitkan dengan ‘Resolusi Jihad’ yang pernah difatwakan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada akhir Oktober tahun 1945. Pada saat itu pasukan Belanda datang lagi ke Indonesia dengan tujuan untuk menguasai kembali Indonesia. Pemerintah Indonesia yang pada saat itu dipimpin oleh Presiden Ir. Soekarno berupaya menggalang kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan dengan cara menghadang pasukan Belanda yang mau masuk Indonesia. Untuk itu, Presiden Soekarno menemui KH. Hasyim Asy’ari untuk meminta dukungan. Jawaban KH. Hasyim Asy’ari adalah ‘Resolusi Jihad’. Yakni, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa yang isinya mendorong dan bahkan mewajibkan umma Islam, khususnya para santri untuk ikut berperang melawan Pasukan Belanda. Hal itu dilakukan pada akhir Oktober, tepatnya tanggal 22 Oktober 1945. Kemudian fatwa itu menyebar ke berbagai pesantren. Hingga pada tanggal 10 November 1945 pecahlah perang antara rakyat Indonesia melawan pasukan Belanda. Inilah sebenarnya latar belakang ditetapkannya hari santri. Tujuannya, tak lain adalah mengapresiasi peran ummat Islam (santri) yang telah ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Dan selanjutnya diharapkan ummat Islam ikut terus menjaga keutuhan dan eksistensi bangsa Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para syuhada’. Pada konteks saat ini kehidupan berbangsa dan bernegara kita menghadapi tantangan yang mulidimensi. Tantangan internal berupa ancaman disintegrasi nasional, menurunnya ketahanan nasional karena problem perekonomian bangsa, serta menurunnya pemahaman dan filosofi berbangsa dan bernegara. Pada aspek eksternal, ekspansi ekonomi Negara-negara besar kian agresif. Persaingan antar negara besar kian ketat. Dan sebagai imbasnya adalah negara yang relatif masih berkembang menjadi sasaran penguasaan ekonomi negara besar. Indonesia sebagai salah satu negara yang berada pada posisi geografis yang strategis karena berada di antara negara-negara besar seperti China dan Australia, menjadi sasaran penguasaan ekonomi. Ditambah lagi dengan potensi sumber daya alam Indonesia yang subur dan kaya, menjadi negara-negara besar memiliki keinginan kuat untuk dapat menguasai. Lihat saja, PT. Frepot menguasai sumber daya alam Indonesia yang ada di Papua puluhan tahun lamanya. Belum lagi di daerah lain seperti Natuna. Mengingat tantangan yang sangat besar tersebut, mau tak mau, bangsa Indonesia harus merekatkan diri antara satu dengan lainnya. Bangsa Indonesia harus solid menghadapi tantangan yang sedang dan akan dihadapi. Kondisi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim, maka magnet yang dapat digunakan untuk menyatukana Bangsa Indonesia adalah agama. Penetapan hari santri adalah momen yang lekat dengan idiom keagamaan (Islam) yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa. Santri sebagai representasi Islam, tentu, akan mudah untuk diajak membangun persaudaraan Perkembangan Santri Sekarang ? Kesadaran terhadap tantangan global bagi santri kian meningkat. Santri terdorong untuk belajar berbagai pengetahuan, tidak terbatas belajar masalah agama (ansich). Tetapi juga mempelajari pengetahuan modern. Seperti jaringan computer, permesinan, otomotif, dan sebagainya. Alhasil, para santri sudah merambah berbagai disiplin keilmuan dan bidang pekerjaan. Para pengasuh pondok pesantrenpun juga menyadari perkembangan ini. Pada akhirnya pesantren tidak hanya memfasilitasi para santri untuk belajar ilmu agama secara sempit. Pesantren memfasilitasi para santri untuk belajar berbagai ilmu. Bahkan pesantren juga melakukan program kemitraan dengan perguruan tinggi, sehingga para santri dapat mengakses pendidikan di perguruan tinggi umum dan favorit, seperti Universitas Gajah Mada (UGM). Harapan Atas Hari Santri. Dengan ditetapkannya hari santri ini, secara pribadi saya berharap agar, pertama, kalangan pesantren, termasuk alumnus pesantren tidak ekslusif dan membatasi definisi santri hanya dengan batasan pernah nyantri di suatu pesantren. Tetapi menggunakan definisi yang longgar sebagaimana dikemukakan oleh Clifford Geertz yaitu merujuk pada ummat Islam. Sebab, penggunaan definisi yang sempit akan membatasi kekuatan ummat Islam yang diharapkan terus berkembang seiring dengan simbolisasi hari santri. Kedua, ummat Islam sadar bahwa tantangan yang dihadapi bangsa ini kian kompleks dan berat. Tantangan bangsa ini tidak hanya masalah internal, tetapi juga masalah eksternal. Tantangan bukan sekedar masalah moral, tetapi juga masalah ekonomi, budaya, politik, pendidikan, dan sebagainya. Semuanya menjadi akumulasi persoalan yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh ummat Islam Indonesia sebagai funding fathers bangsa dan Negara ini. Dengan kesadaran itu diharapkan ummat Islam Indonesia tidak mudah diprovokasi dan diadu-domba antara satu dengan lainnya. Ketiga, ummat Islam Indonesia segera berbenah dan menyiapkan diri untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanan diri untuk menyelesaikan problem berbangsa dan bernegara. Ancaman perang ekonomi dunia sudah di depan mata, sehingga harus segera dicari jalan keluarnya agar bangsa ini dapat tetap eksis dan jaya. Agar bangsa ‘pribumi’ yang kian hari kian tersisihkan, tidak terus tersisihkan. Tetapi dapat move on menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.