LANGKAH PEMUDA tuk MEWUJUDKAN SUMPAHNYA

Diposkan pada 31 Oct 2017 02:40


Peringatan hari Sumpah Pemuda telah menjadi suatu tradisi yang diperingati setiap tahun. Ya, setiap tahun bangsa ini memperingati sumpah pemuda. Hari yang 89 tahun lau dideklarasikan oleh pemuda-pemudi dari berbagai daerah di Indonesia. Ada Jong Java, Jong Ambon, Jong Batak, Jong Sunda, Jong Sumatra, dan sebagainya. Merekaa bersatu dan menyatakan janji untuk berbahasa satu, berbangsa satu, dan bernusa satu, yaitu Indonesia. Pada konteks peringatan hari sumpah pemuda yang selalu kita rayakan, dapat ditemukan suatu substansi yang sangat berbeda antara sumpah pemuda saat ini dengan 89 tahun yang lalu. Pertama, ada semangat bersama untuk saling bergandengan tangan, saling menerima, saling mengerti, dan saling bahu membahu antara satu dengan lainnya. Meskipun mereka berbeda. Sumpah untuk berbahasa satu, berbangsa satu, dan bernusa satu adalah semangat persatuan. Semangat untuk saling mengikatkan diri pada sebuah nilai bersama. Dengan demikian, mereka rela untuk mengalah demi yang lain. Sehingga tercipta suatu ikatan yang kuat di antara mereka. Kedua, peringatan sumpah pemuda pada konteks saat ini menjadi sebatas rutinitas. Ritual social politik semata. Sementara upaya untuk memaknai dan kemudian merumuskan dalam konteks praktis kehidupan berbangsa dan bernegara, hamper tidak ada. Karena sebagai ritual, maka peringatan sumpah pemuda menjadi alat untuk unjuk diri sebagai sosok yang Indonesianis. ‘Akulah Indonesia, aku sangat cinta Indonesia, aku sangat peduli dengan Indonesia’, begitu kira-kita jargon yang digunakan saat anak bangsa melakukan peringatan sumpah pemuda. Dan jargon itu digunakan untuk ‘meledek’ kelompok lain dan untuk ‘menghakimi’ kelompok lain sebagai kelompok yang tidak punya nasionalisme karena tidak melakukan upacara peringatan hari Sumpah Pemuda. Ini bahaya. Rutinitas peringatan sumpah pemuda ini membahayakan kehidupan bangsa dan Negara. Sebab, orang pada akhirnya akan sibuk untuk melakukan upacara dengan model acara yang dramatis, misal pembacaan ikrar sumpah pemuda di atas tebing, bukit, jembatan dan sebagainya. Sensasi peringatan menjadi target utama demi untuk menunjukkan bahwa dirinya atau kelompoknya sangat nasionalis. Sementara, aksi nyata untuk mengembangkan kehidupan berbangsa dan bernegara tidak ada. Dalam konteks lain, sensasi peringatan dijadikan sebagai bahan untuk mengolok-olok kelompok lain yang tidak melakukan peringatan sumpah pemuda. Lalu, bagaimana agar peringatan sumpah pemuda menjadi sarana untuk menumbuhkan persatuan bangsa? Pertama, menghadirkan spirit sumpah pemuda. Ir. Soekarno dikenal luas menyampaikan pesan perenial yang disingkat dengan ‘jas merah’, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Perkait dengan peringatan sumpah pemuda adalah bagaimana konteks social, ekonomi, politik, dan budaya sumpah pemuda dapat dihadirkan kembali dalam setiap peringatan. Artinya, bagaimana sejarah sumpah pemuda dihadirkan untuk menjaga spirit dari peristiwa itu. Kedua, pemerintah menjalankan pemerintahan secara konsisten dan adil. Konsisten dalam menjaga semangat kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemerintah dituntut dapat menempatkan diri sebagai penyelenggara negara yang berdiri di atas semua kelompok dan golongan. Termasuk berdiri di atas semua partai politik. Tidak menjadi kepanjangan tangan partai tertentu. Tetapi menjadi kepanjangan tangan ideologi negara dan cita-cita bangsa yang mengakomodir semua kepentingan kelompok yang ada dalam negara yang dikelolanya. Mengapa demikian, sebab bangsa ini didirikan berdasarkan konsep negara yang sudah matang. Ideologi dan dasar negara sudah dirumuskan dengan sebaik-baiknya. Ruh dari ideologi dan dasar negara telah diakomodir dari semua ideologi kelompok bangsa. Sehingga, ideologi dan dasar negara telah merepresentasikan (mewakili) cita-cita dan kepentingan semua kelompok yang ada di negeri ini. Tinggal bagaimana pemerintah menjadikan ruh tersebut sebagai spirit dalam menyelenggarakan tugas dan tanggungjawabnya. Lalu, jika ada perkembangan baru terkait dengan pemikiran dan konsep berbangsa dan bernegara seiring dengan perkembangan social dan budaya baru, tugas pemerintah adalah mendiskusikan dalam kerangka memberikan solusi dan guide. Itulah tugas pemerintah. Ketiga, mewujudkan keadilan social. Penegakan hukum menjadi salah satu poin yang harus dijalankan oleh pemerintah. Penegakan hukum ini sebagai sarana untuk mewujudkan keadilan social. Oleh karenanya penegakan hukum harus dijalankan sesuai dengan filsafat hukum itu sendiri. Logika penegakan hukum perlu dibangun seiring dengan landasan dan nilai filosofis hukum. Sehingga penegakan hukum tidak berjalan di atas logika administrasi, tetapi berjalan di atas nalar hukum yang mengantarkan pada keadilan social. Keempat, pemerintah wajib hukumnya memberikan peluang dan kesempatan kepada para pemuda untuk terlibat aktif dalam pembangunan bangsa. Sangat disayangkan, saat ini banyak sumber daya manusia Indonesia yang handal tetapi diberikan kesempatan untuk mendarma-bhaktikan kemampuannya untuk Indonesia. Justru banyak tenaga asing yang ’dipaksakan’ untuk masuk ke Indonesia dan mengisi pos-pos tertentu di dalam negeri ini. Banyaknya tenaga asing masuk dan bekerja di Indonesia menjadi bukti nyata betapa pemerintah belum sepenuhnya memberikan kesempatakan kepada anak bangsa sendiri. Yang lebih naïf lagi, sumber daya Indonesia yang diminta untuk mendarma-bhaktikan keahliannya untuk membangun Indonesia, justru ‘dijerat’ masalah hukum. Sekali lagi, ini bukti bahwa pemerintah Indonesia belum menjadikan penegakan hukum sebagai sarana mewujudkan dan menegakkan keadilan. Pemerintah juga belum memberikan jaminan secara maksimal bagi para pemuda Indonesia untuk melangkah menjalankan sumpahnya, membangun Indonesia. Ropingi el Ishaq Kediri, 29 Oktober 2017