HAZANAH ‘KE-IBU-AN’ BANGSA

Diposkan pada 27 Dec 2016 11:20


Hari ibu telah tiba kembali. Entah, sudah berapa kali sejak tanggal ditetapkan, kita memperingati Hari Ibu. Sebuah penetapan hari yang sungguh sangat arif untuk menempatkan posisi wanita sebagai sosok mulia. Karena telah melahirkan, merawat, mendidik, serta membesarkan anak yang merupakan tunas bangsa yang diharapkan di masa depan. Apresiasi terhadap wanita sebagai sosok ibu sudah banyak dilakukan. Dalam bidang seni dan budaya, banyak seniman yang secara khusus menulis dan menciptakan lagu ataupun puisi dengan judul Ibu. Tak lain, karya seni tersebut dimaksudkan sebagai penghargaan terhadap peran ibu dalam membangun bangsa, semenjak sebelum merdeka hingga pasca reformasi ini. Dalam bidang politik, betapa perempuan atau wanita yang diidentikkan sebagai sosok ibu diberikan peluang yang cukup besar untuk tampil dalam kancah politik local maupun nasional. Baik pada wilayah eksekutif, legislative maupun yudikatif. Ruang gerak di sector public yang sudah diberikan kepada para wanita tersebut terbukti melahirkan banyak tokoh-tokoh wanita. Ada hakim wanita yang dikenal sangat tegas dan adil, ada muballighah (da’i wanita) yang terkenal, ada guru, professor, bahkan politikus, serta pengusaha-pengusaha wanita yang dikenal ulet dan profesional. Bahkan di Indonesia pernah dipimpin seorang presiden wanita. Ini merupakan suatu bukti betapa hari ibu memberikan ruang gerak yang luar biasa kepada para wanita yang memiliki naluri keibuan yang tak bisa dan tidak boleh dinafikan. Dan Indonesia sudah membuktikan hal itu. Justru Amerika Serikat yang konon katanya negeri yang demokratis dan tidak mempertimbangkan aspek gender dalam menentukan pejabat di ruang public, ternyata masih belum setinggi apresiasi dan penghargaan bangsa ini terhadap wanita. Buktinya, sepanjang sejarah Amerika Serikat belum ada presiden wanita di sana. Baru-baru ini, pemilihan Presiden Amerika yang sangat kontras ditontonkan oleh para calon, ternyata menghasilkan keputusan politik yang cukup mengejutkan, yakni kemenangan Trump atas Hillary Clinton. Padahal, dari sisi rekam jejak dan karakter para calon sudah terlihat sangat jelas. Konon hanya karena rakyat Amerika Serikat belum siap dipimpin oleh seorang wanita, maka nasib Hillary Clintonpun harus kandas untuk yang kedua kalinya setelah delapan tahun lalu dia kalah dalam konvensi calon presiden dari partainya. Watak Keibuan Kembali ke konteks Indonesia, filosafi menetapkan hari ibu sebagai hari nasional kiranya adalah bukan saja sebagai apresiasi terhadap para wanita. Tetapi juga mengandung suatu pengharapan agar para wanita menjalankan kodrat keibuannya, sehingga pembangunan bangsa ini berjalan menuju cita-cita luhur bangsa. Keseimbangan pembangunan jasmani dan rohani bagi anak-anak bangsa. Tampilnya wanita di kancah politik dan ruang public diharapkan mampu mewarnai pembangunan dengan unsur-unsur keibuan yang dimilikinya. Yaitu jiwa kemanusiaannya cenderung memberikan perlindungan, menyatukan anak-anak dalm suasana kesatuan dan kebersamaan, mengarahkan dengan kepemimpinan yang bijaksana, dan akhirnya mampu mencapai keadilan yang merata. Cita-cita bangsa yang tertera dalam Pancasila dan juga UUD 1945 tergambar jelas dalam sosok seorang ibu. Itulah barangkali filosofi ditetapkannya hari ibu. Hanya saja, apakah kira-kira filosofi ini dipahami dan diinternalisasi dengan baik oleh para anak bangsa ini? Rasanya belum. Hari ibu masih diperingati sebagai rutinitas belaka. Hari ibu hanya menjadi ritual mengenakan pakaian adat berupa jarit, kebaya, dan selendang. Sementara mental keibuan belum tercermin dalam diri bangsa ini. “Ribuan kilo/ jalan yang kau tampuh/ lewati rintang/ untuk aku anakmu/ ibuku sayang/ masih terus berjalan/ walau tapak kaki/ penuh darah/penuh nanah/ ….” Begitu bunyi sya’ir lagu Iwan Fals yang berjudul ‘Ibu’. Berjibaku melindungi tanah tumpah darah dan anak-anak bangsa kian lama rasanya kian menipis. Pemimpin-pemimpin negeri cenderung mengecil semangat berkorban demi bangsa dan negara. Apalagi berbagai kasus akhir-akhir ini yang berupa masuknya tenaga kerja asing ke dalam negeri. Jelas mengganggu rasa aman anak bangsa ini. Bagaimana tidak, bangsa ini masih membutuhkan banyak lapangan pekerjaan. Sementara lapangan pekerjaan terindikasi diberikan kepada orang lain. Anak bangsa ini masih membutuhkan perlindungan untuk membangun usaha, tetapi justru kran masuknya barang-barang asing ke tanah air dibuka lebar-lebar. Seorang ibu, tidak akan membiarkan anaknya menghadapi ancaman begitu saja. Seorang ibu juga tidak mungkin menutupi lapangan pekerjaan bagi anak-anaknya. Seorang ibu akan bersuah payah membuka lapangan pekerjaan untuk anak-anaknya. Bahkan jika terpaksa, akan memberikan pekerjaan itu kepada anaknya. Supaya anak-anaknya dapat hidup lebih baik. Dalam kisah personal seringkali ditemukan drama kepura-puraan ibu untuk anaknya demi kesuksesan si anak. Saat makanan sedikit si Ibu bilang kepada anak, makanlah ibu belum atau tidak lapar, padahal sebenarnya ia menahan lapar. Itu dilakukan agar anaknya kenyang. Dan seterusnya. Menipisnya Visi Keibuan dan Menebalnya Visi Perempuan Pemimpin bangsa dapat diibaratkan sebagai seorang ibu atau orang tua. Mereka terus perhatikan perkembangn hidup anak-anaknya. Pada saat diperlukan, mereka rela dan ikhlas berjuang dan berkorban untuk anak-anaknya. Filosofi pemimpin bangsa adalah orang tua, mulai menurun intensitas dan kualitasnya. Jiwa pengorbanan para pemimpin mulai berkurang. Perlindungan para pemimpin untuk anak bangsa mulai surut. Kepedulian para pemimpin untuk bangsa juga sudah mulai menipis. Kepekaan para pemimpin sudah mulai bebal. Seoalh bangsa ini hidup dalam sebuah pagar politik yang hanya mampu menahan anak bangsa keluar dan gagal melindungi anak bangsa dari desakan pihak luar. Tidakkah filosofi keibuan hari ibu dirasakan oleh semua elemen bangsa ini, terutama para pemimpin bangsa? Sehingga bangsa ini seolah kehilangan induk di tengah badai angin dan hujan yang menderanya. Gelombang tenaga kerja dari luar negeri, ancaman teror yang meningkat, disharmoni antar elemen social, dan sebagainya. Jawabnya … entahlah… mudah-mudahan peringatan Hari Ibu tidak hanya menjadi symbol social dan politik belaka, tetapi menjadi suatu inspirasi pembangunan bangsa yang bebas dari pamrih politik, materi dan gengsi…wallaahu a’lam