OM TELOLET OM

Diposkan pada 27 Dec 2016 11:21


Fenomena ‘om telolet om’ menggejala di dunia maya. Fenomena ini tak lain adalah suatu gejala social yang berupa kegembiraan sekelompok orang atau anak-anak muda terhadap klakson bus yang berbunyi ‘telolet…telolet.telolet” dengan segala variasinya. Para bus mania nampaknya mengapresiasi bunyi klakson yang tidak biasa ini, karena secara instrumental bunyi klakson ini menyuguhkan irama yang menarik. Fenomena ini menjadi viral di media social. Di ranah media, gejala ‘om telolet om’ sangat ramai hingga manca negara. Dari penyanyi, pembalap, pemain bola, ‘tergoda’ dengan gejala ini. Ada yang mengapresiasi dengan sekedar menjadikan status di media sosial, dan ada pula yang membuat lagu tertentu dengan memasukkan lirik dan instrumentalnya. Telolet Pop Gejala ‘om telolet om’ tak lain adalah budaya masyarakat kebanyakan yang muncul secara alamiah. Dan pada saatnya nanti akan tenggelam atau hilang secara almiah juga. Sebagaimana budaya-budaya popular yang pernah muncul seperti ‘Tak Gendong’, K-Pop, Joda Akbar, Abad Kejayaan, dangdut koplo, dan sebagainya. Budaya-budaya pop tersebut merepresentasikan suatu dinamika social yang ada di tengah masyarakat. Utamanya tentang psikologi masyarakat yang terus berkembang, dan mengalami pasang naik dan turun. Meskipun merepresentasikan kondisi sosiologis tertentu, gejala tersebut tidak serta merta dapat dimaknai secara ideologis. Dalam arti bahwa gejala tersebut mewakili ideology tertentu, sehingga patut untuk diwaspadai. Karena gejala social yang muncul secara natural tidak selalu dipengaruhi dan diproduksi oleh ‘mesin’ ideologi. Sebaliknya, ekspresi psikologis dan sosiologis kadangkala mewujud dalam bentuk yang sama meskipun dari ‘mesin’ ideology yang berbeda. Namun demikian, ada juga yang memaknai gejala tersebut dengan nuansa indeologis. Maklum, karena konteks social di sekitar kita saat ini sedang sensitive dengan ideologi tertentu. Ada yang memaknai bahwa kata ‘om telolet om’ merujuk pada symbol-simbol ketuhanan kelompok tertentu. Gejala ‘om telolet om’ adalah suatu proses ideologisasi yang dirancang oleh kelompok tertentu. Oleh karenanya, gejala itu harus diwaspadai karena dapat membahayakan keyakinan theologis seseorang. Menurut saya, pemaknaan ini rasanya terlalu berlebihan. Karena gejala ‘om telolet om’ muncul secara alamiah. Ia muncul dari sebagai gejala social yang tidak disengaja. Kemunculannya hanya merepresentasikan dinamika kebudayaan masyarakat kebanyakan semata. Sehingga ‘om telolet om’ hanyalah budaya popular semata. Komunikasi Telolet Mengacu pada sejarah klakson ‘telolet’ yang saat ini marak, konon dulunya berasal dari kawasan Arab. Klakson ini digunakan untuk memberikan tanda atau mengusir unta yang banyak berkeliaran di jalanan, sehingga mengganggu lalu lintas. Dengan bunyi klakson ‘telolet’ unta-unta dapat memahaminya dan kemudian minggir. Giliran di Indonesia, bunyi telolet tidak serta merta menjadi popular. Meskipun bunyi klakson yang sejenis sudah banyak beredar dan dipakai. Ada bunyi klakson mirip suara anjing, suara burung, dan sebagainya. Mengapa ‘om telolet om’ menjadi viral dan meng-global? Viralnya ‘om telolet om’ ini tak bisa lepas dengan peran media social yang ada. Media social yang ada pada saat ini menjadi perantara komunikasi lintas budaya. Jejaring media social tidak menutup status dan area social. Sehingga melalui media social menghantarkan ‘om telolet om’ menjadi viral dan menjadi ikon Indonesia. Ikon ini menyampaikan pesan universal kepada siapapun bahwa manusia dengan latar belakang budaya apapun dapat mengekspresikan gagasan dan kondisi kejiwaan dengan bahasa sederhana dan dapat dipahami semua kalangan. Bunyi ‘telolet’ menyatukan makna di tengah perbedaan bahasa. Yakni irama music yang variatif telah memberikan kesegaran psikologis di tengah hiruk pikuk suara yang monoton dan menegangkan. Hal ini dapat dimaknai bahwa pada dasarnya manusia dapat menyampaikan pesan universal dengan bahasa atau symbol sederhana meskipun mereka memiliki aneka ragam bahasa yang berbeda-beda. Telolet menyatukan suatu makna, gagasan, konsep, dan nilai yang dinamis dan sensasional. Kesamaan makna tersebut terjadi karena sederhananya bahasa yang digunakan dan kesamaan sensasi yang dirasa. Dengan demikian, perbedaan kultur dan bahasa tidak menjadi penghalang untuk memahami makna ‘om telolet om’. Bahagia Itu Sederhana Kegembiraan para bus maniak saat sopir bus membunyikan klakson dan berbunyi ‘telolet…telolet’ menegaskan sebuah makna bahwa rasa senang itu sederhana. Menyenangkan atau membuat orang lain senang itu juga sederhana. Tatkala orang sibuk kerja di kantor dan jarang mendengarkan bunyi kemericik air sungai, maka bunyii kemericik air menjadikan seseorang terasa bahagia. Saat orang hidup di tengah terik panas matahari, udara terasa panas, airpun juga terasa panas, kipas angin tidak memberikan kesejukan yang berarti, maka dinginnya air pegunungan memberikan kebahagiaan tersendiri yang tidak dapat diungkapkan dengan bahasa apapun. Saat suara-suara mesin menderu setiap waktu, mengisi detik demi detik hidup manusia, sehingga suara kicau burungpun tidak lagi dapat didengar, maka sekelebat suara burung berkicau menjadi stimulus kebahagiaan seseorang. Dan nilainya tiada tara. Demikian juga saat suara deru mesin kendaraan telah mendominasi gelombang suara di pinggir jalan, suara klakson bersahut-sahutan dengan bunyi yang seirama sehingga terasa sama, maka suara ‘telolet’ menjadi menarik. Suara telolet membawa suasana psikologis yang berbeda dari biasanya. Suara telolet memunculkan kenyamanan psikologis tersendiri. Orang tidak perlu susah-susah mencari kebahagiaan. Orang tidak perlu mahal-mahal mencari kebahagiaan. Karena kebahagiaan itu sederhana. Kebahagiaan itu gampang. Dan sederhananya kebahagiaan akan memudahkan orang lain untuk bisa memberikan kebahagiaan. Biarkan ‘om telolet om’ menjadi viral dan mengundang simpati para netizen di seantero dunia. Biarkan gejala ini menjadi pemantik kesadaran banyak orang untuk saling memberikan keindahan suara, keindahan bahasa, serta kebahagiaan. Sehingga tidak ada lagi bahasa-bahasa sarkastik yang mengusik kenyamanan, kesejukan, serta keyakinan antar anak bangsa. Mudah-mudahan…